Sistem Informasi Manajemen (SIM) bagi suatu rumah sakit
merupakan hal yang sangat penting untuk segera diterapkan.Hal ini mengingat
semakin kompleksnya permasalahan yang ada dalam data medik pasien maupun
data-data administrasi yang ada di rumah sakit.Namun menyediakan SIM bukanlah
hal yang mudah, terutama jika dikaitkan dengan biaya pengadaan SIM yang relatif
sangat besar.
Penerapan sistem informasi pada suatu rumah sakit memerlukan
suatu perencanaan yang matang. Bila dilakukan secara tergesa-gesa tanpa melakukan
perencanaan terlebih dahulu dikhawatirkan akan memakan biaya yang mahal,
kemungkinan ada biaya baru baik untuk riset kelayakan dan lain-lain akan
menambah biaya selanjutnya. Dalam penerapan sistem informasi maka masalah
finansial merupakan faktor yang sangat penting.
Pengelolaan data Rumah Sakit yang sangat besar baik data
medik pasien maupun data-data administrasi yang dimiliki oleh rumah Sakit
sehingga mengakibatkan :
Redudansi Data, pencatatan data yang berulang-ulang
menyebabkan duplikasi data sehingga kapasitas yang di perlukan membengkak dan
pelayanan menjadi lambat, tumpukan filing sehingga memerlukan tempat filing
yang cukup luas.
Unintegrated Data, penyimpanan data yang tidak terpusat
menyebabkan data tidak sinkron, informasi pada masing-masing bagian mempunyai
asumsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit /Instalasi.
Human Error, proses pencatatan yang dilakukan secara manual
menyebabkan terjadinya kesalahan pencatatan yang semakin besar dan tidak
singkrong dari unit satu ke yang lainya dan akan menimbulkan banyaknya
perubahan data (efeknya banyak pelayanan akan berdasarkan sesuka perawan/dokter
sehinga dokter / perawat bisa menambah bahkan mengurangi data/tarif sesuai
dengan kondisi saat itu, misal yang berobat adalah sodaranya makan dengan
seenaknya dokter/perawat memberikan discont tanpa melalu prosedur yang tepat.
Dan menimbulkan kerugian pada rumah sakit.
Terlambatnya Informasi, dikarenakan dalam penyusunan
informasi harus direkap secara manual maka penyajian informasi menjadi
terlambat dan kurang dapat dipercaya kebenarannya.
Era globalisai yang ditandai dengan adanya Perdagangan bebas
mengharuskan sektor Kesehatan terutam Rumah Sakit untuk meningkatkan daya saing
dengan memberikan pelayanan yg sebaik-baiknya kepada pelanggan ataupun pasien
bahkan penyajian laporang yang akurat bagi para pengambil keputusan, bakan
rumah sakit vertical cenderung untuk segera merubah tatana rumah sakit menjadi
sebuah badan layanan umum, sehingga lebih mudah dalam penataan administrasinya.
Guna mengatasi hambatan–hambatan dalam pelayanan kesehatan
di Rumah Sakit, keberadaan “Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit” sangat
dibutuhkan, sebagai salah satu strategik manajemen dalam meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan dan memenangkan persaingan bisnis.
Sistem Informasi Manajemen merupakan prosedur pemrosesan
data berdasarkan teknologi informasi yang terintegrasi dan di intergrasikan
dengan prosedur manual dan prosedur yang lain untuk menghasilkan informasi yang
tepat waktu dan efektif untuk mendukung proses pengambilan keputusan manajemen,
sehingga dalam tahapannya akan membuat bebrapa SOP baru guna menungjang
kelancaran penerapan Sistem yang tertata dengan rapih dan baik.
Berdasarkan definisi di atas, maka kita dapat membagi Sistem
Informasi Manajemen menjadi 5 komponen utama guna menunjang terlaksanana
penerapan system informasi yang benar dan sesuai kebutuhan:
Software (Sistem Informasi Manajeman Rumah Sakit)
Hardware (Perangkat Kerasa berupa Komputer, printer dan
lainnya)
Networking (Jaringan LAN, Wireless dan lainnya)
SOP (Standar Operasional Prosedur)
Komitment (Komitmen semua unit/instalasi yang terkait untuk
sama-sama mejalankan system karena system tidak akan berjalan tanpa di Input)
SDM (sumberdaya manusia adalah factor utama suksesnya sebuah
system dimana data diinput dan di proses melalui tenaga-tenaga SMD tersebut)
SIMRS kami Enterprise Hospital System dibangun
dengan teknologi mutakhir berbasis Open Source dengan spesifikasi
menggunakan User Interface berbasis Web PHP/AJAX & Database bisa
menyesuaikan dengan sistem yang ada (Kami merekomendasikan menggunakan
PostgreSql)
Beberapa hambatan-hambatan yang sering dialami oleh pihak
Rumah Sakit yang disebabkan oleh system informasi yang belum dikelola dengan
baik adalah pencatatan yang berulang yang menyebabkan penduplikasian data, data
yang belum terintegrasi atau masih tersebar, pencatatan data masih dilakukan
secara manual sehingga banyak terdapat kesalahan dan informasi terlambat
disebarkan. Oleh karena system informasi manajemen untuk Rumah Sakit sangat
perlu dilakukan agar dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, dapat
menyajikan laporan akurat sehingga dapat memberikan kemudahan dalam pengambilan
keputusan oleh pihak manajemen.
Sebelum menerapkan suatu system informasi manajemen untuk Rumah Sakit, kita harus mengetahui kelas dan status dari Rumah Sakit tersebut.Dimana masing-masing Rumah Sakit memiliki kebutuhan system informasi berbeda-beda. Status dan kelas Rumah Sakit dapat dibagi menjadi empat (4), yaitu :
Sebelum menerapkan suatu system informasi manajemen untuk Rumah Sakit, kita harus mengetahui kelas dan status dari Rumah Sakit tersebut.Dimana masing-masing Rumah Sakit memiliki kebutuhan system informasi berbeda-beda. Status dan kelas Rumah Sakit dapat dibagi menjadi empat (4), yaitu :
· Rumah Sakit Vertikal
· Rumah Sakit Umum Daerah
· Rumah Sakit Umum Swasta
· Rumah Sakit specialist
Sedangkan untuk melakukan penerapan sistem informasi rumah
sakit dibutuhkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Banyak yang harus
benar-benar dipersiapkan agar hasil yang akan diperoleh seperti apa yang
diharapkan. Komponen utama untuk menunjang terlaksananya penerapan sistem
informasi yang benar dan sesuai kebutuhan :
· Software (Sistem
Informasi Manajemen Rumah Sakit)
· Hardware (seperangkat
komputer)
· Networking (Jaringan
LAN, wireless)
· SOP (Standar
Operasional Prosedur)
· SDM (Sumber Daya
Manusia)
Ketika system informasi telah disiap diimplementasikan
ternyata ada beberapa kendala yang terjadi di lapangan, antara lain
ketidaksiapan pihak Rumah Sakit dalam menerapkan system informasi yang
terintegrasi dan berbasis komputer, sulitnya merubah pola kerja yang telah
terbiasa dengan system manual menjadi komputerisasi, dan penyajian data yang
belum semuanya dalam bentuk elektronik yang akan memudahkan proses migrasi
data.
Secara garis besar, ruang lingkup DigIS-RS ini bisa
digambarkan sebagai berikut:
· Proses registrasi
pasien umum dan pasien penjamin selain ASKES
· Proses registrasi
pasien ASKES
· Alur pelayanan
perawatan pasien rawat jalan
· Alur pelayanan Pasien
UGD
· Alur pelayanan pasien
di unit penunjang
Pertumbuhan teknologi komunikasi dan informasi telah
menyentuh banyak lapisan kehidupan, termasuk dalam bidang kesehatan.Sistem
Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan salah satu bagian penting dalam
penyelenggaraan rumah sakit terutama kaitannya dalam melakukan pencatatan dan
pelaporan. Bahkan kewajiban menyelenggarakan SIMRS ini telah tercantum dalam UU
Nomor 44 tahun tentang Rumah Sakit dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 82
tahun 2013 tentang SIMRS.
Namun saat ini masih banyak rumah sakit yang belum
menerapkan SIMRS secara optimal.Permasalahan yang masih terjadi saat ini adalah
antrian calon pasien yang mengantri berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan. Hal ini disebabkan pengantrian data dilakukan 2 kali untuk
menerbitkan Surat Elegibitas Peserta (SEP) dan Pendaftaran Rumah Sakit,” ungkap
Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan Dr. dr. Nurshanty Sapada. M.Kes dalam
sambutannya pada acara “Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit Open Source (SIMRS GOS)” di Bali, Senin (1/9).
Pertemuan ini membahas berbagai perkembangan sistem
informasi manajemen RS, terutama kaitannya dengan SIMRS GOS dan integrasi
sistem informasi JKN (Bridging System). Saat ini, tim IT Kementerian Kesehatan
mengembangkan Sistem Informasi Rumah Sakit Generik Open Source (SIMRS GOS).
Dengan menggunakan SIMRS GOS ini didapat berbagai manfaat, salah satunya
membantu dalam hal bisnis proses Manajemen Rumah Sakit.
Selain itu, aplikasi ini dapat diperoleh secara gratis tanpa
perlu membayar lisensi dan dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan
pihak Rumah Sakit, Baik secara mandiri, bersama pusat dan atau pihak ke-3,”
jelasnya dihadapan para peserta yang terdiri dari Tim IT Rumah Sakit Vertikal,
Tim IT Rumah Sakit Pilot Project SIMRS GOS dan Tim IT Rumah Sakit yang telah
mengajukan permohonan ke Kementerian Kesehatan.
Untuk mendapatkan SIMRS GOS ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi oleh Pihak Rumah Sakit yaitu mempunyai Infrastruktur IT
(Jaringan LAN, Komputer Client dan Server), dan memiliki minimal 1 (satu) orang
SDM IT yang akan dilatih dan yang memiliki kompetensi dalam bidang pemograman.
Kemudian kaitannya dengan pelaksanaan Jaminan Kesehatan
nasional (JKN), pengembangan SIMRS ini tentu saja menjadi salah satu bagian
penting dalam menyukseskan program ini.Dalam upaya meningkatkan mutu layanan
yang lebih baik kepada peserta, bahkan saat ini RS – BPJS Kesehatan telah
mengembangkan Bridging System.
Sistem ini memungkinkan dua sistem berbeda melakukan dua
proses pada saat yang sama, tanpa adanya intervensi satu sistem ke sistem
lainnya secara langsung. Sehingga calon pasien kini tidak perlu mengantri
berjam-jam di loket pendaftaran,” jelasnya.
Maka, penting sebuah RS untuk terus meningkatkan pelayanan
melalui pengembangan Sistem Informasi RS. Dengan diterapkannya sistem yang
optimal, pelayanan akan lebih lancar, efektif, efisien. Kepastian pembiayaan
dan kecepatan klaim akan semakin baik, serta terjadinya kepuasan konsumen baik
pasien, rumah sakit, maupun stake holder lainnya.
Pengelolaan data yang sangat besar baik berupa data medis
pasien (medical record) maupun data administrasi yang dimiliki oleh Rumah Sakit
mengakibatkan beberapa hambatan / kendala, antara lain:
· Redudansi Data,
pencatatan data yang berulang-ulang menyebabkan duplikasi data sehingga
kapasitas yang di perlukan membengkak dan pelayanan menjadi lambat, tumpukan
filing sehingga memerlukan tempat filing yang cukup luas.
· Unintegrated Data,
penyimpanan data yang tidak terpusat menyebabkan data tidak sinkron, informasi
pada masing-masing bagian mempunyai asumsi yang berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhan masing-masing unit /Instalasi.
· Human Error, proses
pencatatan yang dilakukan secara manual menyebabkan terjadinya kesalahan
pencatatan yang semakin besar dan tidak singkrong dari unit satu ke yang lainya
dan akan menimbulkan banyaknya perubahan data (efeknya banyak pelayanan akan
berdasarkan sesuka perawat/dokter sehinga dokter / perawat bisa menambah bahkan
mengurangi data/tarif sesuai dengan kondisi saat itu, misal yang berobat adalah
saudaranya maka dengan seenaknya dokter/perawat memberikan diskon tanpa melalu
prosedur yang tepat, sehingga menimbulkan kerugian pada pihak rumah sakit.
· Terlambatnya Informasi,
dikarenakan dalam penyusunan informasi harus direkap secara manual maka
penyajian informasi menjadi terlambat dan kurang dapat dipercaya kebenarannya.
Untuk mengatasi hambatan–hambatan dalam pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit, keberadaan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Rumah
Sakit sangat dibutuhkan, sebagai salah satu langkah strategis dalam
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan memenangkan persaingan bisnis
1. Pelayanan Utama (Front Office)
Setiap Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu
dengan lainnya), tetapi secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan
terintegrasi yang sama yaitu proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap)
dan proses pulang.
Setiap Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu
dengan lainnya) tetpi secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan
terintegrasi yang sama yaitu proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap)
dan proses pulang.
Data yang dimasukan pada proses rawat akan digunakan pada
proses rawat dan pulang. Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan
sumber daya, mendapat layanan dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi,
laboratorium, radiologi, gizi, bedah, invasive, diagnostic, non invasive dan
lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari dokter (mialnya
berupa resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan perawat. Jadi
dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit (seluruh
order berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem ini sebagai
order communication system.
2. Pelayanan Administratif (Back
Office)
Proses umum Back Office diantaraya perencanaan,
pembelian/pengadaan, pemelihaaraan stok/inventory, pengelolaan aset,
pengelolaan SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar, dan
lainnya). Proses Back Office ini berhubungan dengan proses pada Front Office.
Rumah Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik
(manusia, uang, mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat
tulis kantor, barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap
Rumah Sakit unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan,
pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan
SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses
back office ini berhubungan/link dengan proses pada front office, digambarkan
berikut ini. Proses bisnis data tidak terstruktur. Proses-proses bisnis tersebut
di atas yang melibatkan data-data terstruktur, yang dapat dikelola dengan
relational database management system, selain itu terdapat proses bisnis yang
melibatkan data yang tidak terstruktur seperti alur kerja, surat diposisi,
email, manajemen proyek, kolaborasi, team work, manajemen dokumen dan
sejenisnya.
Arsitektur Infrastruktur SIMRS
Untuk kebutuhan Sistem informasi RS saja, tetapi juga harus
mampu digunakan untuk berbagai hal, seperti jalur telepon IP, CCTV,
Intelegent Building, Medical Equipment dan lain-lain.
Kebutuhan infrastruktur jaringan komputer kedepan bukan
hanya untuk kebutuhan Sistem informasi RS saja, tetapi juga harus mampu
digunakan untuk berbagai hal, seperti jalur telepon IP, CCTV, Intelegent
Building, Medical Equipment dan lain-lain.
Untuk mendukung pelayanan tersebut, maka infrastruktur
jaringan komunikasi data yang disyaratkan adalah:
1. Meningkatkan unjuk kerja dan
memudahkan untuk melakukan manajemen lalu lintas data pada jaringan komputer,
seperti utilisasi, segmentasi jaringan, dan security.
2. Membatasi broadcase domain pada
jaringan, duplikasi IP address dan segmentasi jaringan menggunakan VLAN
(virtual LAN) untuk setiap gedung dan atau lantai.
3. Memiliki jalur backbone fiber
optik dan backup yang berbeda jalur, pada keadaan normal jalur backup digunakan
untuk memperkuat kinerja jaringan/redudant, tapi dalam keadaan darurat backup
jaringan dapat mengambil alih kegagalan jaringan.
4. Memanfaatkan peralatan aktif yang
ada, baik untuk melengkapi kekurangan sumber daya maupun sebagai backup
5. Dianjurkan pemasangan oleh vendor
jaringan yang tersertifikasi (baik perkabelan maupun perangkat aktif).
6. Dokumentasi sistem jaringan lengkap
(perkabelan, konfigurasi, uji coba, dan sejenisnya) baik hardcopy maupun
softcopy.
7. Mengingat penggunaan jaringan yang
komplek kedepan, maka perangkat aktif mengharuskan pengelolaan bertingkat,
seperti adanya:
a. Core switch yang merupakan device
vital dalam local area network di Rumah Sakit dimana core switch ini sebagai
bacbone lan dan sentral switch yang berperan dalam prosessing semua paket
dengan memproses atau men-switch traffic secepat mungkin).
b. Distribution switch yang merupakan
suatu device antara untuk keperluan pendistribusian akses antar core switch
dengan access switch pada masing-masing gedung, dimana antara sebaiknya
distribution switch dan core switch terhubung melalui fiber optic.
Arsitektur Data
Arsitektur Data untuk menghasilkan informasi yang baik,
diperlukan data yang homogen.Agar dapat dihasilkan data homogen maka perlu
dibuat arsitektur data yang baik. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam
membangun arsitektur data: Kodefikasi Kodefikasi selain keharusan utk
otomatisasi/ komputerisasi, juga diperlukan untuk integrasi dan penglolaan
lebih lanjut seperti statistik. Mapping Karena sering berbeda keperluan kode-
fikasi data, maka diperlukan mapping data untuk integrasi dan pengelolaan lebih
lanjut, misalnya mapping kodefikasi antara tarif dengan kode perkiraan/chart
of account, mapping kode kabupaten/kota dengan provinsi dan sejenisnya.
Arsitektur Aplikasi
Mengingat kompleksnya proses bisnis pada Rumah Sakit,
berikut ini gambaran arsitektur minimal dan variabel SIMRS yang dapat
mengakomodir kebutuhan informasi.
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan
prosedur pemrosesan data rumah sakit memanfaatkan teknologi informasi yang
terintegrasi untuk menghasilkan informasi yang tepat waktu dan efektif untuk
mendukung proses pengambilan keputusan bagi pihak manajemen, sehingga dalam
tahapannya akan membuat beberapa SOP (standard operating procedure) baru guna
menunjang kelancaran penerapan SIMRS yang tertata dengan baik dan rapi.
1. Front Office
Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber
daya, mendapat layanan dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi,
laboratorium, radiologi, gizi, bedah,invasive, diagnostic non
invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari dokter
(misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan perawat.
Jadi dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses
bisnis Rumah Sakit (seluruh order berasal dari mereka). Karena itu
kami menyebutkan inti sistem ini sebagai order communation system. Front
Office SIMRS meliputi:
· Antrian registrasi
· Modul appointment
· Registrasi
· Pelayanan informasi
· Pengaduan
· Pelayanan informasi
· Publik
2. Back office
Rumah Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik
(manusia, uang, mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat
tulis kantor, barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap
Rumah Sakit unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan,
pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan
SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya).
Proses back office ini berhubungan/link dengan proses pada front
office, digambarkan berikut ini.
a. Komuniasi dan Kolaborasi
· Komunikasi
One Medic – One Solutions for Health Information System merupakan
suatu aplikasi piranti lunak yang telah dikembangkan sejak tahun 2008.
Protocol komunikasi yang tersedia telah dilengkapi dengan system keamanan
sehingga dapat menekan berbagai tindakan cyber crime oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab.
Desain aplikasi SIMRS One Medic berbasis Web dimana
pengguna dapat melakukan integrasi dengan pihak-pihak internal maupun eksternal secara online’.
Manfaat Intergasi secara Online bertujuan untuk mengantisipasi pengulangan
pekerjaan administrasi yang dapat memicu terjadinya human error sehingga
potensi kerugian Rumah Sakit dapat ditekan. Fitur-fitur SIMRS One
Medic sebagai solusi untuk menjawab tantangan masa depan industri pelayanan
medik:
– Security system: modul
ini dapat mengatur informasi dan data yang diperbolehkan untuk
diaksesbaik oleh pihak internal maupun eksternal. Pengaturan tersebut dilakukan
selain untuk melindungi kerahasiaan data pasien juga untuk menghindari
penyalahgunaan informasi penting lainnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab.
– MPI server solutions: adalah
sistim komunikasi online yang dirancang untuk menjembatani komunikasi
antar sistem. Aplikasi MPI server solutions dapat digunakan
sebagai alat konfirmasi hak-hak pasien terhadap jenis tindakan
medis dan obat-obatan yang dapat diberikan oleh Rumah Sakit sesuai dengan
ketentuan Pihak Penjamin.a
– Billing
records system: seluruh data tindakan medik dan obat-obatan yang
diberikan pada pasien otomatis terekam secara online dan dapat diatur
sesuai dengan format penagihan yang ditetapkan oleh Pihak Penjamin.
Feature ini dapat mempersingkat proses pekerjaan administrasi penagihan
sehingga dapat menekan angka piutang.
Untuk media komunikasi informasi antara unit dapat digunakan
media komputer yang sudah terintegrasi dengan jaringan LAN dengan menggunakan
aplikasi Messenger atau chating, selain itu juga sudah ada nya telepon lokal
yang membantu hubungan komunikasi antar unit.Sedangkan untuk akses komunikasi
ke luar instansi menggunakan akses internet yang terintegrasi melalui jaringan
Pemerintah Kota.
· Kolaborasi
Salah satu kolaborasi untuk mengembangkan SIMRS
adalah dalam bentuk Kerjasama Operasional (KSO) atau Build
Operational Transfer (BOT).MenurutPSAK no 39, KSO merupakan
bentuk kerjasama antara 2 belah pihak atau lebih dimana masing-masing
pihak sepakat untuk melakukan suatu usaha bersama dengan menggunakan
asset dan/atau hak usaha yang dimiliki dan secara bersama-sama menanggung
resiko atas usaha tersebut. RSmempunyai peluang pasar berupa kunjungan pasien
sedangkan konsultan/vendor akanbertindak sebagai investor untuk
menyediakanteknologi informasi yang selalu update baik berupa 1)Perangkat
keras (Server, PC &Jaringan), 2)Perangkat lunak (Software) maupun
sumber daya manusia (Brainware) baik tenaga operator ( Data Entry),
Programmer maupun tenaga lainnya.
Manfaat utama dari kegiatan KSO SIMRS ini adalah adanya
jaminan berkelanjutan serta proses pendampingan/transfer knowledge
SIMRS,sehingga akan meminimalkan resiko-resiko kegagalan implementasi di
pihak RS dan akan menekan cost/biaya yang dikeluarkan untuk investasi
teknologi informasi yang senantiasa selalu update.Pihak rumah sakit
berkewajiban untuk menyediakan fasilitas sarana/prasarana
untuk menunjang kegiatan operasional KSO SIMRS tersebut. Rumah Sakit akan
melakukan pengembalian investasi dengan beberapa alternatif, antara lain
pembebanan ke pasienper registrasi/kunjungan/resep atau dana dari komponen unit
Bahan Habis Pakai (BHP),komponen unit Jasa Akomodasi maupun daritingkat
efisiensi operasional RS. Pihak konsultan mempunyai kewajiban melakukan
pengembangan/update, tailor-made(customize) sistem sesuai kebutuhan RS,
Transfer Knowledge dan pendampingan operasional selama masa kerjasama
tersebut.Rumah Sakit akan menerima sistem secara keseluruhan baik modul
aplikasi, source code maupun blue print sistem pada masa akhir kerjasama
sehingga RS diharapkan akan menjadi mandiri dalam mengelola SIMRSpasca masa KSO
tanpa ketergantungan dari pihak konsultan dan bisa menjadi
revenuecenter karena bisa mengembangkan sistem yang ada ke RS yang lain.
Berdasarkan definisi di atas, maka kita dapat membagi SIMRS
menjadi 6 komponen utama guna menunjang terlaksananya penerapan SIMRS yang
benar dan sesuai kebutuhan:
· Software (Sistem
Informasi Manajeman Rumah Sakit)
· Hardware (perangkat
Keras berupa komputer, printer dan lainnya)
· Networking (jaringan
LAN, wireless dan lainnya)
· SOP (Standard Operating
Procedure)
· Komitmen (komitmen
semua unit / departemen / instalasi yang terkait untuk sama-sama mejalankan
sistem karena sistem tidak akan berjalan tanpa di-input)
· SDM (sumberdaya manusia
adalah faktor utama suksesnya sebuah sistem dimana data di-input dan diproses
melalui tenaga SDM tersebut)
DAFTAR PUSTAKA:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar