Review Jurnal
Judul Jurnal : Sistem Pakar Dalam Menentukan Tingkat IQ Anak yang Mengalami Reterdasi Mental Dengan Metode Certanty Factor (Studi Kasus : Pendidikan SLB/B Karya Murni)
Penulis : Feresi Daeli
Sumber : https://www.ilmuskripsi.com/2016/06/jurnal-sistem-pakar-dalam-menentukan.html
Latar Belakang Jurnal
Perkembangan teknologi yang sangat pesat seiring dengan kebutuhan manusia yang semakin banyakdapat memungkinkan untuk digunakan sacara luas di berbagai bidang seperti dalam dunia bisnis, kesahatan, pendidikan dan perkantoran. System pakar (expert system) adalah program berbasis pengetahuan yang menyediakan solusi-solusi dengan kualitas pakar untuk masalah-masalah dalam suatu domain yang spesifik. Implementasi sistem pakar banyak digunakan dalam bidang kesehatan karena sistem pakar dipandang sebagai cara penyimpanan pengetahuan pakar pada bidang tertentu sehingga dalam program computer keputusan dapat diberikan dalam melakukan penalaran secara cerdas. Pada kali ini yang dibahas adalah penerapan metode certainty factor untuk menentukan anak yang mengalami reterdasi mental, menggunakan bantuan bahasa pemrograman Microsoft Visual Studio dot Net 2008 dengan database Microsoft Access, diharapkan dapat memberikan hasil dalam menentukan anak yang mengalami reterdasi mental dengan metode certainty factor.
Metode Penelitian Jurnal
Menggunakan Metode Certainty Factor
Tujuan Penelitian Jurnal
Pada kali ini yang dibahas adalah penerapan metode certainty factor untuk menentukan anak yang mengalami reterdasi mental, menggunakan bantuan bahasa pemrograman Microsoft Visual Studio dot Net 2008 dengan database Microsoft Access, diharapkan dapat memberikan hasil dalam menentukan anak yang mengalami reterdasi mental dengan metode certainty factor. Salah satu implementasi yang diterapkan sistem pakar dalam bidang kesehatan yaitu sistem pakar untuk menentukan tingkat IQ (Intelligence Quotient) anak pada Karya Murni mempunyai siswa-siswi yang berbeda-beda latar belakang, sehingga kemampuan dalam membaca, menghafal maupun bersosialisasi berbeda-beda.
Review Pembahasan Jurnal
1. PendahuluanSistem pakar (expert system) adalah program berbasis pengetahuan yang menyediakan solusisolusi untuk masalah-masalah dengan kualitas pakar. Sistem pakar merupakan program komputer yang meniru proses pemikiran dan pengetahuan pakar dalam menyelesaikan suatu masalah tertentu. Implementasi sistem pakar dapat diterapkan dalam dunia kesehatan selain sebagai media informasi bagi masyarakat terutama pada penderitaan IQ (Intelligence Quotient) dibawah normal, dan juga sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Pengetahuan yang disimpan di dalam sistem pakar umumnya diambil dari seseorang manusia yang pakar dalam masalah tersebut dan sistem pakar itu berusaha meniru metodelogi dan kinerjanya (performance).
Pada dasarnya sistem pakar mempunyai bermacam-macam metode untuk mendiagnosa berbagai macam penyakit yang dialami oleh manusia maupun hewan. Metode sistem pakar yang biasa digunakan adalah metode bayes, yaitu: suatu metode untuk menghasilkan estimasi parameter dengan menggabungkan informasi dari sampel dan informasi lain yang telah tersedia sebelumnya. Metode forward chaining merupakan suatu penalaran yang dimulai dari fakta untuk mendapatkan kesimpulan (conclusion) dari fakta tersebut. Forward chaining bisa dikatakan sebagai strategi inference yang bermula dari sejumlah fakta yang diketahui. Forward chaining bisa disebut juga pencarian yang dimotori data (data driven search) yang dimulai dari premis-premis atau informasi masukan (if) kemudian menuju konklusi atau kesimpulan (then).
2. Landasan Teori
2.1 Sistem PakarSistem adalah sekumpulan elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuantertentu[1].
Ada beberapa pengertian sistem berdasarkan konsep dasar sistem, yaitu;
1. Sebuah gabungan komponen yeng teratur, “teratur” berarti bahwa ada hubungan khusus antara koponen.
2. Sistem telah diidentifikasi oleh seseorang sebagi kepentingan khusus (memiliki tujuan tertentu).
3. Sistem melakukan sesuatu yang dengan kata lain bahwa ia menunjukan sebuah tipe perilaku yang unik untuk sistem tersebut.
4. Tiap komponen berkontribusi terhadap perilaku sistem dan dipengaruhi karena berada didalam sistem.
5. Sistem memiliki sesuatu yang berada diluar disebut sebagai lingkungan yang memberikan input kedalam sistem dan menerima output dari sistem2.2 Ciri-ciri Sistem Pakar1. Terbatas pada domain keahlian tertentu
2. Dapat memberikan penalaran untuk data-data yang tidak lengkap atau tidak pasti.
3. Dapat menjelaskan alasan-alasan dengan cara yang dapat dipahami.
4. Bekerja berdasarkan kaidah / rule tertentu.
5. Basis pengetahuan dan mekanisme inferensi terpisah.
6. Sistem dapat mengaktifkan kaidah secara searah yang sesuai, dituntut oleh dialog dengan penggunaan.2.3 Reterdasi Mental Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental.
2. Dapat memberikan penalaran untuk data-data yang tidak lengkap atau tidak pasti.
3. Dapat menjelaskan alasan-alasan dengan cara yang dapat dipahami.
4. Bekerja berdasarkan kaidah / rule tertentu.
5. Basis pengetahuan dan mekanisme inferensi terpisah.
6. Sistem dapat mengaktifkan kaidah secara searah yang sesuai, dituntut oleh dialog dengan penggunaan.2.3 Reterdasi Mental Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental.
2.4 Klasifikasi Reterdasi MentalKlasifikasi reterdasi mental berdasarkan skor IQ (Intelligence Quotient) dari test Wechsler adalah sebagai berikut :
2.5 Intelligence Quotient (IQ)Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes StanfordBinet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.2.6 Metode Certainty FactorTeori Certainty Factor (CF) diusulkan oleh Shortliffe dan Bunchanan pada tahun 1975 untuk mengakomodasi ketidakpastian pemikiran (inexact reasoning) seorang pakar. Seorang pakar (misalnya dokter) sering kali menganalisis informasi yang ada dengan ungkapan seperti “mungkin”, “kemungkinan”, “hampir pasti”. Untuk mengakomodasi hal iniperul digunakan certainty factor (CF) guna menggambarkan tingkat keyakinan pakar terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Kelebihan Jurnal
1.Permasalahan yang dibahas sukup sederhana namun cukup penting
2.Solusi yang digunakan dalam memecahkan masalah menggunakan teknologi yang mutakhir
3.Analisa masalah, data, dan sistem yang lengkap
4. User interface dari program yang sederhana dan tidak rumit.
Kesimpulan
1. Dengan adanya penelitian ini, penulis dapat menentukan tingkat IQ anak yang mengalami reterdasi mental berdasarkan gejala-gejala yang dialami oleh masing-masing anak.
2. Dengan penerapan metode certainty factor menghasilkan nilai interprestasi dari setiap gejala yang dialami oleh masing-masing anak, sehingga nilai itu dapat diketahui kemungkinan anak terkena reterdasi mental ringan, sedang, berat dan sangat berat.
3. Dengan adanya penelitian ini, penulis telah merancang suatu aplikasi sistem pakar dengan menggunakan bahasa pemrograman, sehingga dapat membantu pihak yang bersangkutan dalam mengolah data anak yang mengalami reterdasi mental dengan efektif dan efisien.
2. Dengan penerapan metode certainty factor menghasilkan nilai interprestasi dari setiap gejala yang dialami oleh masing-masing anak, sehingga nilai itu dapat diketahui kemungkinan anak terkena reterdasi mental ringan, sedang, berat dan sangat berat.
3. Dengan adanya penelitian ini, penulis telah merancang suatu aplikasi sistem pakar dengan menggunakan bahasa pemrograman, sehingga dapat membantu pihak yang bersangkutan dalam mengolah data anak yang mengalami reterdasi mental dengan efektif dan efisien.
Saran
1. Diharapkan dapat menggunakan aplikasi pemrograman dalam menentukan kemungkinan besar anak mengalami reterdasai mental.
2. Diharapkan dapat memahami gejala-gejala reterdasi mental yang dialami oleh masingmasing anak supaya dapat mudah di tangani dengan baik.
2. Diharapkan dapat memahami gejala-gejala reterdasi mental yang dialami oleh masingmasing anak supaya dapat mudah di tangani dengan baik.
3.Diharapkan Dapat Memberikan solusi pengobatan terhadap anak yang mengalami reterdasi mental.
Daftar Pustaka
[1]. Jogiyanto H.M, “Analisa dan Desain Sistem Informasi”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2005
[2]. Kusrini, “Amplikasi Sistem Pakar”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2008
[3]. Muhammad Arhami, “Konsep Dasar Sistem Pakar” Penerbit Andi, Yogyakarta, 2005.
[4]. T. Sutejo, Edy Mulyanto, Vince Suhartono, “Kecerdasan Buatan”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2011
[5]. Sularyo, T.S dan Kadim M, “Kesehatan Mental”, Sari Pediatri, Surabaya, 2000.
[2]. Kusrini, “Amplikasi Sistem Pakar”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2008
[3]. Muhammad Arhami, “Konsep Dasar Sistem Pakar” Penerbit Andi, Yogyakarta, 2005.
[4]. T. Sutejo, Edy Mulyanto, Vince Suhartono, “Kecerdasan Buatan”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2011
[5]. Sularyo, T.S dan Kadim M, “Kesehatan Mental”, Sari Pediatri, Surabaya, 2000.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar